Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ARTIKEL, 14 tahun berdampingan dengan banjir


14 tahunn HIDUP
BERDAMPINGAN DENGAN BANJIR





            Tidak
mudah menjadi langganan banjir. Korban banjir sering bertahan di kawasan
banjir,  karena siapa juga yang rela  meninggalkan rumah.  Maka harus 
tumbuh kreatifitas untuk menghadapi banjir rutin, terutama di puncak musim
penghujan.


             Banjir Tamu Tak Diundang


  Tahun 1993, saat 2 bulan  pertama tinggal di rumah  kompleks perumahan di tenggara Bandung,  rumah kami sudah terkepung banjir. Hanya
tidak terlalu parah. Banjir menggenangi jalan, tapi tidak memasuki rumah.


            Tapi
tahun-tahun berikutnya,  banjir  jadi langganan,  memasuki rumah kami. Betapapun kami sudah
memasang tanggul tembok di pintu masuk rumah, serta mengurug  rumah menjadi lebih tinggi.


            Pengalaman
pedih dan pahit  jika banjir tak terduga.
Saat belum puncak musim hujan,  dan hujan
sudah berhenti. Biasanya paling yang banjir hanya jalanan dan pekarangan depan
rumah saja. Malamnya banjir kiriman 
hadir  gara-gara tanggul jebol di
dataran tinggi sana.





            Kebetulan
setiap  hujan  perumahan 
kami tinggal pasti lampu, entah kenapa sebabnya. Jadi habis hujan rumah
kami gelap gulita. Seperti biasa  si
bungsu yang masih bayi  terlelap di  kasur .


            Tiba-tiba
dini hari jam 2 pagi, dalam gulita malam, terdengar  “gedumbrang”, “braaak”, dan suara amburadul
dari seisi rumah. Kami menyalakan lampu senter, astaga,  baju kami basah.  Kasur sudah terendam, lemari jungkir balik,
gentong berisi beras sudah  jumpalitan  tumpah ruah isinya. Tabung gas yang isinya
sudah menjelang kosong bergoyang keras. Kami bergerak cepat membenahi
buku-buku, dokumen,  alat elektronika.






















            Semua
kami naikkan ke atas  ruang tamu yang
kami buat setinggi  1 meter (seperti
bale-bele/dipan). Tapi ruangan ini terbatas, hanya selebar 2x3 cm.
Anak-anak  kami bentangkan kasur di ruang
ini. Dan tidur di atas tumpukan barang yang bisa diselamatkan.


            Tak
sabar menunggu matahari terbit, kami mengungsi sementara di rumah tetangga, Ibu Tata, di  blok
lain  yang banjirnya hanya 10 cm  saja. Di sana 
kami dahulukan anak-anak untuk sarapan mie instan yang disumbang
tetangga jauh yang tidak kebanjiran.







            Barang-barang
kami lebih banyak yang rusak terendam, karena kami tak punya lantai 2 (loteng
rumah). Rumah yang memiliki loteng, 
lebih baik nasibnya ketika banjir, dibandingkan rumah kami .


            Kami
harus menunggu surut untuk mengeluarkan mobil dari carport, sebab ketinggian
banjir sudah menenggelamkan  mesin mobil.
Kalau saja banjir tidak tiba-tiba datangnya, atau dengan arus mendadak yang
cukup deras, setidaknya kami sudah bersiap untuk keluar dari kompleks perumahan.





            Nestapa
Banjir
.


            Banjir
adalah kesedihan yang berulang. Tidur  di
atas dipan dikelilingi air,  terasa
lembab  dan tak nyaman. Untuk anak balita
jelas penyakit. Untuk ke toilet juga sulit, sebab cubluk/closet juga terendam air.








            Banjir
di rumah kami tak serta merta surut sehari meski matahari sudah mulai  berbinar. Dalam 3 hari barulah banjir surut. Paling
cepat 2 hari lah, selebihnya  banjir di
perumahan kami cukup lama. Tapi kalau hujan lagi bisa  bersambung banjirnya jadi 1 minggu. Namun lebih memprihatinkan mereka yang kebanjiran di Baleendah.... bisa  berminggu-minggu. 


Di tempat lain ada yang kalau banjir hanya sehari saja, itu saja mereka sudah heboh kewalahan. Padahal banjirnya  hanya 20 sampai 30 cm saja. Tapi begitulah banjir, biar dangkal atau dalam,  biar hanya sejam, memang merepotkan empunya rumah. 













            Anak-anak
kami  tumbuh dalam suasana banjir rutin
hingga si sulung  mencapai usia  remaja. Kami tinggal 14 tahun di kawasan yang
setiap musim hujan jalannya tergenang, dan setiap puncak musim hujan, rumah
kami terendam minimal lebih dari 1 hari 1 malam.





 Dalam banjir sulit untuk menyediakan makanan,
sulit untuk memasak, sulit untuk beraktifitas, sulit untuk ke WC, terutama anak
anak masih bayi dan balita. Tidak mandi , sampai sepekan karena banjir, itu
sudah biasa. Sumber air bersih ikut tercemar karena banjir.


Ketika anak berangkat sekolah,  ayahnya akan menggendong sampai ke tempat yang tidak banjir. Sepatunya ditenteng dalam keresek. Nanti di angkot  baru pakai sepatu. Itulah kehidupan anak-anak saya setiap musim banjir.


Sedihnya banjir di tempat kami tidak pernah surut dalam  2 hari, biasanya 3 hari baru surut.  





           Memang seperti kebanyakan korban banjir lainnya, 
tak ada pilihan  tempat tinggal,
selain rumah  di lokasi banjir, itulah
yang terjangkau oleh kantong. Rumah yang kami beli dengan  hasil perjuangan sendiri, bahu membahu.





            Ada kawasan lain yang
ketika ditinggal  penghuninya untuk
mengungsi, dimanfaatkan oleh maling untuk menjarah.Sangat memprihatinkan.





            Dalam
banjir berbagai kecelakaan motor terjadi, lubang-lubang yang  memang banyak menghiasi jalan  komplkes 
menjungkir-balikkan mereka. Mobil terperosok ke selokan besar atau
sungai, pernah terjadi. Karena tak ada bedanya antara jalan dan sungai. Becak
terjerambab, sangat mengenaskan.


            Belum
lagi bahaya kesetrum  bagi mereka yang
tak sengaja melewati kawasan banjir, 
tapi  ada kabel listrik putus dan
jatuh sehingga listrik  mengalir lewat
media air, menyengat manusia.


            Banjir
juga menyisakan penyakit. Sakit kulit karena air banjir, dan sakit pernafasan. Pasrah  atas rusaknya perabotan  dan elektronika, mau tak mau. Sedih memang.
Pernah selama seminggu rumah kami terendam, dan saat pulang, panci periuk dan
wajan sudah berubah karatan. Kusen rumah kian lapuk, tembok menjadi kumuh
kecoklatan. Tanam-tanaman sebagian besar mati terendam.


            Saat
mengungsi, korban banjir seperti kami menjadi korban perasaan. Pernah kami
mengungsi  di rumah  kerabat. Terus terang rasanya malu dan tak
enak. Apalagi saat banjir anak bungsu saya sedang sakit campak. Untung sudah
hampir sembuh. Suasana yang sangat tidak enak.


            Banjir  melengkapi kerugian moril dengan kerugian
materil.








            Kerja
Keras Paska Banjir


            Berjibaku
mengeruk lumpur yang tebalnya sampai 5 cm untuk yang kami lakukan. Tapi saudara-saudara
kami di  bantaran sungai punya tugas
mengeruk lumpur sampai 20 cm tebalnya. Lumpur menyelimuti kamar tidur, kursi,
meja, bahkan kasur.


            Menyelamatkan
buku-buku dan dokumen yang basah serta menjemurnya harus itu. Membuang
sampah  yang  berlabuh didapur, di atas kursi, di teras
rumah, di pekarangan  bisa sampai
berkarung-karung. Mulai dari sampah plastik, 
kecoa, ular kecil, tikus mati , sampai kotoran manusia entah dari mana.


            Tak
cukup 3 hari untuk membuat rumah betul-betul bersih dari lumpur dan sampah. Dan
tak cukup seminggu untuk menunggu rumah tak lagi lembab.





            Kiat
Berdampingan dengan Banji
r.


  1. Berangsur perabotan 
    lemari kami ganti menjadi container yang kedap air (ada penutup
    atasnya), lalu menyimpannya kami tumpuk. Baju, buku , dan barang
    penting  kami simpan dalam container
    plastik berkualitas tinggi. Tujuannya, ketika kami harus mengungsi, mudah
    membawanya. Dan kalaupun  masih di
    rumah , setidaknya  masih bisa
    terselamatkan.

  2. Selalu siap lampu senter dengan batu baterai. Akan
    diperlukan saat banjir tiba.

  3. Selalu siap dengan Ponsel  yang terisi penuh baterainya, juga radio
    dengan baterai untuk mendengarkan berita. Misalkan kabar  banjir kiriman akan datang  , atau jebolnya sebuah tanggul yang
    berdampak ke kediaman kita.

  4. Selalu siap air minum kemasan dalam dus  (botol) dan  makanan cepat saji (mie instan), termos,
    biskuit/roti, di tempat yang aman. Juga obat-obatan.

  5. Siapkan juga jeriken untuk persediaan air bersih
    yang  pasti terjadi setiap banjir.
    Simpan di tempat yang aman.

  6. Sebaiknya memiliki loteng (rumah 2 lantai)  untuk evakuasi sementara. Dan
    barang-barang yang penting disimpan di lantai atas.

  7. Jangan ambil resiko ketika tanda-tanda hujan
    deras  dan banjir  meningkat, lalu bertahan di rumah.
    Segera evakuasi keluarga,  mobil,
    barang-barang penting, kunci pintu dan jendela untuk menghindari
    penjarahan, segera beranjak ke tempat aman.

  8. Padamkan listrik utama rumah jika banjir. Air adalah
    pengantar listrik  yang baik,
    setrumnya bisa mengalir menyambar manusia. Dan jika bekas banjir, tunggu
    sampai betul-betul kering  lubang
    stop kontaknya, karena bisa berakibat kortsluiting listrik.

  9. Ganjal barang-barang dengan batu batako agar
    posisinya lebih tinggi.

  10. Siapkan selalu desinfektan dan lap pel serta ember ,
    sendok semen pengeruk lumpur, perkakas yang memadai  untuk 
    membersihkan  rumah dan
    pekarangan seusai banjir.

  11. Untuk pakaian, miliki sepatu boat yang sangat perlu
    setiap banjir. Termasuknya juga peralatan darurat evakuasi seperti ban
    berenang hitam dan pelampung.

  12. Seorang teman saya menyimpan dokumen penting di safe
    deposit box bank yang aman (tidak terkena banjir). Jadi ketika bencana
    banjir datang  , tidak terlalu
    cemas.

  13. Ada
    juga teman saya yang di rumah lantai 2 nya, tersedia perahu karet. Mungkin
    agak berlebihan, tapi tidak ada salahnya bukan.